Untuk membangun kemandirian
pangan Indonesia adalah dengan meningkatkan produksi padi (tanaman pokok) untuk mengimbangi pertambahan jumlah penduduk. Jumlah penduduk Indonesia terus bertambah yaitu antara tahun 1990-2000 adalah 1,45% dan tahun 2001-2010 adalah 1,49%. Sementara produktivitas lahan(ton/ha) dan rasio(%) pertambahan produksi gabah kering giling (GKG) mengalami pasang surut, naik tidak seberapa, begitu juga sempat turun.
Tahun | Luas (ha) | Produktifitas (ton/ ha) | Produksi (ton GKG) | Rasio (%) |
2005 | 11.839.060 | 4,57 | 54.151.097 | - |
2006 | 11.786.430 | 4,62 | 54.454.937 | 0,56 |
2007 | 12.147.637 | 4,70 | 57.157.435 | 4,96 |
2008 | 12.327.425 | 4,89 | 60.325.925 | 5,25 |
2009 | 12.883.576 | 4,99 | 64 398 890 | 6,76 |
2010 | 13.118.120 | 5,03 | 65.980.670 | 1,58 |
Yang jadi masalah adalah
pertambahan penduduk jelas diikuti pertambahan kebutuhan beras. Berbeda dengan rasio produksi beras, kebutuhan konsumsi beras terus mengalami pasang (kenaikan) tidak pernah surut. Tingkat konsumsi beras di Indonesia adalah 139,15 kg/kap/tahun (termasuk
pangan kebutuhan industri, dan pakan ternak). Tingkat konsumsi ini sangat tinggi untuk ukuran internsional. Sebagai pembanding adalah konsumsi di negara lain, seperti Jepang 45 kg/kap/tahun, Malaysia 80 kg/kap/tahun, Thailand 90 kg/kap/tahun, dan konsumsi rata-rata dunia saat ini adalah 56,9 kg/kap/tahun (Deptan dalam Simarmata, 2008).
Tahun | Jml penduduk (jt jiwa) | Kebutuhan Beras (jt ton) | Kebutuhan GKG (jt ton) | Produksi GKG ton |
2000 | 206,26 | 28,70 | 45,55 | 51.898.852 |
2005 | 218,87 | 30,46 | 47,08 | 54.151.097 |
2010 | 237,56 | 33,08 | 52,50 | 66.411.469 |
2011 | 241,10 | 33,55 | 53,25 | 67.307.324 |
2015 | 255,92 | 35,61 | 56,52 | 72.847.991 |
2020 | 275,70 | 38,36 | 60,89 | 82.038.669 |
2025 | 297,01 | 41,33 | 65,60 | 90.577.320 |
2030 | 319,96 | 44,52 | 70,67 | 100.004.680 |
Jika kita lihat ditahun 2010 antara produksi dan kebutuhan GKG (gabah kering Giling) mengalami surplus 66.411.469 – 52,50 jt ton = kurang lebih 14 juta ton.
Namun kenapa kita tidak dalam kategori ketahanan pangan? padahal beras kita ada surplus 14 juta ton?.
Jawabannya adalah sisi kemanusiaan. Disisi lain manusia cenderung menyimpan cadangan beras pada rumah tangga, juga bila terdapat acara sakral seperti pernikahan atau acara lainnya tentu saja akan membutuhkan beras dalam jumlah lebih banyak. Juga kegiatan industri yang terus meningkat seperti pembuatan pakan ternak instan, tepung, cake, dll semakin menambah kekhawatiran akan kekurangan beras di dalam negri. Dan perlu digaris bawahi, sudah menjadi hukum rimba dalam dunia bisnis dan konsumen, apabila ada isu suatu barang akan berkurang dan tidak mencukupi, maka beramai ramai masyarakat dan kalangan industri membeli sebanyak-banyaknya barang tersebut. Walaupun pada kenyataannya barang tersebut dibeli dengan jumlah berapapun masih tetap tersedia. Maka dari itu, kurang bijak juga bila kita menghakimi Bulog (Badan urusan Logistik) yang mengimpor beras 1,5 juta ton dari vietnam pada awal september 2009 (menjelang Lebaran), Bulog punya alasan kuat untuk mengimpor mengantisipasi ada isu negatif menjelang lebaran.
Oleh karena itu bila ingin dirasa cukup
ketahanan pangan, surplus sebagai persediaan haruslah setengah (1/2) kali dari kebutuhan beras
nasional. Misal ditahun 2010 kebutuhan 52,5 juta ton, maka setengahnya adalah 26,75 juta ton GKG, jadi seharusnya tahun 2010 produksi beras adalah 78,75 jt ton GKG. Tetapi yang terjadi adalah produksi 65,5 juta ton.
Dengan menggunakan data patokan tahun 2010 dan prakiraan kwartal I tahun 2011, yaitu:
Luas lahan: 13.118.120 ha
Produktifitas lahan : 5,03 ton/ha
Kebutuhan beras (GKG): 52,5 jt ton
Laju pertambahan penduduk: 1,49 %
Jumlah penduduk: 237,56 jt jiwa
Produksi GKG 2010: 66.411.469 ton
Produksi GKG 2011: 67.307.324
Maka
Proyeksi ketahanan pangan Nasional untuk tahun tahun selanjutnya adalah:
Bila Intensifikasi Pertanian
Intensifikasi adalah meningkatkan produktifitas lahan, artinya lahan tidak bertambah luas tapi produksinya meningkat atau perbaikan teknik budidaya dan kualitas lahan.
keterangan:
-- | : Intensifikasi:, luas lahan tetap, tetapi:
- Produktivitas lahan bertambah,
- Kualitas lahan meningkat,
- Teknik budidaya lebih baik. |
-- | Angka ramalan/prakiraan dengan melihat data tahun sebelumnya yaitu 2010 dan 2011. |
-- | Angka proyeksi ketahanan pangan, target bila ingin mencapai ketahanan pangan. |
Angka
proyeksi ketahanan pangan diatas dengan catatan luas lahan tidak berkurang atau tetap. Intensifikasi menuntut perbaikan lahan dan tehnik budidaya yang lebih baik. Berbagai penelitian dan percobaan harus dilakukan. Yang lebih penting adalah penyuluhan dan pelatihan kepada pelaku pertanian di lapang. Apakah bisa meningkatkan
ketahanan pangan nasional dengan Intensifikasi pertanian?.
Tentu saja Bisa !.
Gambar: Teknik Budidaya IPAT-BO (Intensifikasi Padi Aerob Terkendali Berbasis Organik), salah satu strategi intensifikasi pertanian. Potensi teknik budidaya ini bisa mencapai 8-10 ton/ha.
Bila Ekstensifikasi Pertanian
Adalah perluasan lahan pertanian untuk meningkatkan produksi beras. Lebih dititik beratkan pada pembukaan atau konversi ke lahan pertanian.
keterangan:
-- | Ekstensifikasi: produktifitas lahan tetap, tetapi luas lahan bertambah |
-- | Angka ramalan/prakiraan dengan melihat data tahun sebelumnya yaitu 2010 dan 2011. |
-- | Angka proyeksi ketahanan pangan, target bila ingin mencapai ketahanan pangan. |
Angka
proyeksi ketahanan pangan diatas dengan catatan produktifitas lahan tidak berkurang yaitu 5,03 ton/ha. Apabila produktifitas lahan meningkat, itu lebih baik. Ekstensifikasi Pertanian dilakukan tentu saja dengan mempertimbangkan unsur lingkungan jangka panjang serta konservasinya. Misalkan bila membuka hutan menjadi lahan pertanian, sebagai efeknya adalah erosi, banjir, dll. Apakah bisa meningkatkan
ketahanan pangan nasional dengan Ekstensifikasi pertanian?.
Weeitss,, tunggu!, harus banyak yang diperhitungkan!
Gambar: Ingin membuka lahan pertanian?, harus memperhitungkan dan mangantisipasi erosi, longsor, dan kelebihan air (banjir)
Kesimpulan
Bila ingin menjadikan
ketahanan pangan Nasional pada tahun 2011, maka ada 2 alternatif yaitu meningkatkan produktivitas lahan menjadi 6,09 ton/ha, atau membuka lahan kurang lebih 2,5 juta Ha menjadi 15.879.721.
Rujukan:
Badan Pusat Statistik. 2011. Tabel Luas Panen- Produktivitas- Produksi Tanaman Padi Seluruh Provinsi tahun 2006-2010 (On line). http://www.bps.go.id/tnmn_pgn.php?adodb_next_page=2&eng=0&pgn=1&prov=99&thn1=2006&thn2=20010&luas=1&produktivitas=1&produksi=1. Diakses tanggal 9 januari 2011.
Badan Pusat Statistik. 2011. Penduduk Indonesia menurut Provinsi 1971, 1980, 1990, 1995, 2000 dan 2010 (On line). http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=12¬ab=1. Diakses tanggal 9 januari 2011.
Simarmata, T. 2007. Intensifikasi Padi Aerob Terkendali Berbasis Organik (IPAT-BO) Melipatgandakan Produksi Padi, Makalah pada Seminar dan Lokakarya Peningakatan Produksi Padi, Tanggal 17 Juli 2007 di SPLPP Fak. Pertanian Unpad dan Hari Krida Pertanian Kabupaten Bandung, Tanggal 2 Agustus 2007 di BPP Solokan Jeruk, Bandung, serta Safari IPAT-BO di Jatim, Jateng dan Jabar tanggal 4 – 11 Agustus 2007
Simarmata, T., Yuyun Yuwariah. 2007. Teknologi Intensifikasi Padi Aerob Terkendali Berbasis Organik (IPAT-BO) Untuk Melipatgandakan Produksi Padi Dan Mempercepat Kedaulatan
Pangan. Seminar dan Lokakarya Peningkatan Produksi Padi Tanggal 17 Juli 2007 Di SPLPP Fak. Pertanian UNPAD dan Hari Krida Pertanian Kabupaten Bandung, Tanggal 2 Agustus 2007 di BPP Solokan Jeruk, Bandung.